Membangun Banda Aceh menjadi “Kota Harum”

Membangun Banda Aceh menjadi “Kota Harum”

Jika tidak keliru, Banda Aceh menjalin kerjasama Sister City dengan Kota Higashimatsushima, Jepang berdasarkan kesamaan pengalaman soal tsunami. Banda Aceh juga menjalin kerjasama kota kembar dengan Kota Apeldoorn, Belanda, Samarkand, Uzbekistan, dan pernah menjajaki kerja sama dengan Kota Vukovar, Kroasia.

Selain itu, Pemko Banda Aceh Aceh juga terlibat aktif dalam perhimpunan kota-kota se-Asia Fasifik seperti Kota-kota Bersatu dan Pemerintah Daerah-Asia Pasifik (UCLG-ASPAC) dan CityNet.

Dalam konteks usaha mengharumkan kembali Nilam Aceh di dunia, tidak berlebihan jika “Kota Harum” Banda Aceh juga menjalin kerjasama berbasis sister city dengan “Kota Parfum” Grasse, Prancis.

Disebut “kota harum” karena di Banda Aceh mulai tumbuh industri parfum, yang harumnya mulai menyebar hingga ke 11 negara, beberapa di antaranya adalah Inggris, Arab Saudi, Amerika, Malaysia, Taiwan, Bangladesh, Uni Emirat Arab, India, dan Thailand. Minyeuk Pret yang mulai dirilis tahun 2015 ini, tempat penyulingannya ada di Jalan Wedana, Desa Lam Ara, Keutapang, Banda Aceh.

Sementara itu, Usnyiah dengan ARC-nya sedang giat-giat mengembangkan atsiri nilam termasuk memproduksi beragam produk bernilai ekonomis berbasis Nilam Aceh. Ide mewujudkan Desa Wisata Nilam menjadi makin membutuhkan kerjasama berbasis dunia agar ada banyak alasan bagi warga dunia, pecinta parfum, pencium parfum dan pelaku industri parfum untuk berkunjung dan menjalin kerjasama dengan Aceh terkait atsiri nilam.

Meniru Kota Grasse, Perancis

Mengapa pilihannya Grasse, Prancis? Sebab, Kota Grasse, memang sudah lama dikenal sebagai Kota Parfum Dunia. Di kota yang cuma berjarak 15 kilometer dari Kota Cannes inilah, hamparan aroma wangi-wangian tergelar, yang dihasilkan dari 25 lebih pabrik parfum.

Jika Kelompok Kerja Desa Wisata Aceh mendapat dukungan Walikota Banda Aceh, agar menjajaki dan menjalin kerjasama dengan Kota Grasse, Prancis, maka kiblat para penggila parfum dunia, akan juga bersedia berkunjung ke Banda Aceh, termasuk mengunjungi lokosi Desa Wisata Aceh, yang rencananya akan dibangun dibeberapa lokasi terpilih.

Lagi pula, hubungan kerjasama Grasse dengan Indonesia telah berjalan baik, khususnya komoditi minyak atsiri yang diserap industri parfum di Grasse. Dan, Grasse sebagai ibukota produsen parfum di Prancis, secara tradisional mengimpor bahan baku minyak atsiri dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Juni lalu, ketika Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin  Nasution berkunjung ke Grasse, Prancis, dan bertemu dengan Walikota Grasse, Asosiasi essential oil Prodarom, dan kelompok usaha dan industri Accords & Parfums, Pôle de Compétitivité, Mane, Robertet, Payan Bertrand, Bernardi, Tournaire, Firmenich, Asemer Demarest, SFA Romani, dan lain lain, juga dipromosikan soal nilam.

Disampaikan, produsen di Indonesia menginginkan adanya kerjasama langsung ekspor ke Prancis. Sekaligus, memperoleh referensi teknologi yang dapat diterapkan untuk memenuhi standar kualitas industri parfum di Perancis. Terbuka kesempatan investasi proses produksi minyak atsiri di Indonesia.

Dalam pertemuan itu diketahui, peluang pasar untuk produk-produk unggulan ekspor Indonesia di wilayah Grasse masih terbuka lebar. Ada banyak hal, serta terdapat kebutuhan besar minyak atsiri dan kopi dari Indonesia yang dapat diserap di pasar Prancis Selatan.

Lebih dari itu, juga ada kepercayaan yang unik di dunia bahwa permata bukan satu-satunya sahabat terbaik wanita, tapi juga parfum. Bisa dibayangkan, jika para penyuka parfum tahu bahwa di Aceh tersedia parfum lex specilist. Yang tidak ada di belahan bumi manapun, kecuali di Aceh. Tentu saja jika pemerintah Kota Banda Aceh bersedia mendukung tumbuhnya industri parfum di Banda Aceh. Yang ditujukan sebagai cara mewujudkan Banda Aceh sebagai Kota Wangi.

Lagi pula, walaupun Indonesia menjadi pemasok terbesar 12 jenis minyak atsiri Indonesia ke pasar internasional dari 80 minyak atsiri di dunia. Diantaranya dari jenis-jenis minyak atsiri minyak nilam, serai wangi, akar wangi, kenanga, jahe, dan pala. Namun sayangnya, belum ada produsen kosmetik wewangian Indonesia yang masuk dalam 10 besar daftar perusahaan dunia, yang bergerak di bidang perasa dan wewangian. Barangkali, Aceh bisa menjadi penerobos itu. Melalui  pendekatan kerjasama semua pihak (Quadruple Helix) dibawah dukungan pemerintah Aceh dan Kota Banda Aceh. Mungkinkah?

By dan Sumber : Risman Rahman (www.rubrika.id)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *