Minyak Nilam Aceh, Kemewahan Untuk Dunia

Minyak Nilam Aceh, Kemewahan Untuk Dunia

Sebanyak 85% kebutuhan minyak Nilam di dunia, disupply oleh Indonesia. Dan, 75% diantaranya adalah dari Minyak Nilam Aceh

Minyak Atsiri atau lebih dikenal dengan istilah essential oil/ aromatic oil, merupakan bahan baku dari industry parfum dunia, kosmetika, obat-obatan, serta industry makanan dan minuman. Pasarnya di dunia, amat besar. Sebagaimana yang dikutip dari https://portaljember.pikiran-rakyat.com/

Salah satu dari minyak Atsiri yang menjadi bahan baku Parfum adalah Minyak Nilam. Di mana, Indonesia memasok kebutuhan nilam dunia sebanyak 85% dari kebutuhannya. Dan, fakta yang paling menarik adalah, 75% dari jumlah yang diekspor oleh Indonesia tersebut adalah minyak nilam yang berasal dari Aceh.

Artinya, 2/3 minyak nilam dunia disuplai dari Aceh. Tidak sampai disitu saja, minyak nilam  ini mendapatkan pengakuan dari industry parfum dunia. Tentu dikarenakan bahan ini merupakan agen pengikat untuk harmonisasi pafum. Bisa jadi, minyak wangi atau parfum Gucci di rumah anda, bahan bakunya adalah minyak nilam dari Aceh.

Baca Juga : Minyeuk Pret, Tanda Cinta dari Aceh untuk Indonesia

Yang Dicari dari Minyak Nilam

Pentingnya posisi minyak  ini, dikarenakan kadar PA atau Patchouli Alcoholnya berada diantara 30-35%. Memang jika dibandingkan dengan minyak nilam lainnya, kandungan PA ini, lebih kecil. Namun, Minyak Nilam dari Aceh ini mengandung pengotor yang lebih sedikit. Hal tersebut memberikan daya pengikatan PA lebih kuat. Sehingga aroma lebih tahan lama, juga mendapatkan harmonisasi aroma yang lebih soft. Dengan semua data sederhana ini, wajar jika akhirnya, perusahaan besar parfum dunia membutuhkan minyak nilam dari Aceh.

Sayangnya, kemegahan minyak nilam ini di pasar global, tidak berbanding lurus di kampung halamannya sendiri yaitu, Aceh. Dari 23 kabupaten kota di provinsi paling barat Indonesia ini, hampir seluruhnya mampu menghasilkan minyak nilam. Tentunya, tanpa harus merusak lingkungan.

Ada beberapa asbab yang menjadikan minyak nilam di Aceh tidak terdengar gaungnya. Salah duanya adalah, masih rendahnya harga jual minyak nilam tersebut di pasaran lokal. Kedua, masih ada keengganan masyarakat Aceh untuk bangga memakai hasil produksi dalam provinsi.

Ini, tentu tanpa alasan. Minyak ini, di tahun 1998 pernah menyentuh angka Rp. 1.400.000 per kilo. Namun, kini perkilo tak sampai Rp. 600.000. sedangkan biaya produksi dan kebutuhan pokok terus meningkat. Ibarat, buah simalakama.

Menarik di dunia, Malu di Kampung

Kurangnya minat atau kebanggaan masyarakat Aceh dalam menggunakan produk hasil karna putera daerahnya, seolah menjadi puncak dari segalanya. Hingga wajar saja, jika pada akhirnya minyak yang dihasilkan oleh petani, tak mampu memberikan nilai tambah. Karena, yang dijual pada level petani dan sampai ke agensi, hanyalah bahan baku. Bukan bahan setengah jadi.

Pemuda, para intelektual, dan para pemangku kepentingan di Aceh tak tinggal diam. Mereka berusaha mencari solusi. Agar nantinya, Nilam, benar-benar mampu memberikan efek positif terhadap perkembangan ekonomi. Lembaga ARC Unsyiah yang bekerja sama dengan pemerintah Aceh misalnya, mereka bersepakat untuk membangun Desa Wisata Nilam. Projek awalnya, di Desa Ranto Sabon, kabupaten Aceh Jaya.

Atau, Perusahaan Parfum Lokal yang digawangi oleh empat anak muda Aceh. Mereka mendirikan Minyeuk Pret. Yang berarti Minyak Semprot, atau minyak wangi dalam Bahasa khazanah lokal di Aceh.

olahan minyak nilam Aceh
Parfum dari olahan Minyak Nilam Aceh

Salah satu tujuan dari pendirian Minyeuk Pret adalah, membangun budaya bangga memakai minyak dari Aceh. Bagaimana tidak, jika paradigma berpikir ini terbangun, bersamaan dengan itu masyarakat Aceh akan paham, jika yang disajikan kepada mereka bukanlah hasil produksi kelas dua, melainkan kelas utama.

Bayangkan, parfum yang hanya berukuran 30ml, memiliki bahan baku yang berkualitas dunia. Dipakai oleh berbagai perusahaan parfum yang ada di eropa dan amerika. Bayangkan, jika wewangian yang dihasilkan menjadi tahan lama dan menyaingi wangi parfum lainnya. Pun, dengan harga yang lebih terjangkau.

Berbagai elemen stakeholder  ini, hanya menginginkan satu hal saja. Masyarakat Aceh, berhak mendapatkan yang terbaik dari hasil tanah dia sendiri. Apa yang didapatkan oleh dunia, Aceh juga berhak merasakan, betapa mewahnya wangi  minyak nilam dari Aceh ini.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *