Minyak Nilam, Pacar Lama Yang Kembali Dilirik

Minyak Nilam, Pacar Lama Yang Kembali Dilirik

Masih terngiang dengan jelas, malam itu, Aceh masih dirundung konflik bersenjata. Paman saya, tergopoh-gopoh memakai atribut kepolisiannya. Sesaat kemudian, ia pamit. Padahal, jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Jam malam berlaku saat itu. Hendak mengejar maling pohon nilam, katanya. Lantas ia berlalu membuka pintu rumah dan menyalakan motornya. Hilang dalam gelap. Hanya pancaran lampu motor yang semakin lama semakin menjauh.

Waktu itu, tahun 1998, Aceh mencapai puncak konflik bersenjata. Sekaligus puncak kekayaan orang-orang yang berada di Aceh bagian barat. Minyak Nilam menjadi komoditi utama mereka. Harga sekilo Minyak nilam (Patchouli oil), mencapai 1,2 juta rupiah bahkan pernah menyentuh 1,4 juta. Harga motor kala itu, hanya 6 kilogram minyak nilam.

Sebenarnya, potensi minyak Nilam menjadi bintang bagi bisnis ekspor Minyak Atsiri Indonesia. Indonesia sendiri, memasok sekitar 85 sampai 90 % pangsa pasar nilam global, 2.000 ton per tahun. Produksi minyak nilam sendiri didominasi di pulau Jawa dan Sumatera, dan Aceh salah satu daerah di Sumatera sebagai daerah penghasil nilam. Sayangnya, sebagian besar yang diekspor masih dalam bentuk minyak yang belum diolah jadi produk hilir.

Kini, Aceh, menghadapi sebuah dilema terbaru. Di satu sisi, minyak nilam Aceh menjadi primadona dalam kancah dunia dan begitu dibanggakan. Akan tetapi, harga yang tak baik menjadi masalah bagi petani. Nilam yang dijual oleh petani nilam dihargai sangat rendah. Hal ini, sebenarnya menjadi masalah klasik dalam dunia agrobisnis di Aceh.

Nilam Aceh, selalu dijual dalam bentuk tanaman kering yang sering dihargai dengan harga rendah. Hal ini semakin diperparah dengan keengganan masyarakat untuk menanam nilam, dimana mereka juga belum terlalu paham mengenai keunggulan serta prospek nilai ekonomi nilam.

Memberikan Nilai Tambah Dengan Membentuk Kampung/Desa Wisata Nilam

Lantas, bagaimana sebenarnya potensi nilam di Aceh, menurut Dr Syaifullah Muhammad, ST M.Eng kepala Pusat penelitian ATSIRI Universitas Syiah Kuala Aceh mengatakan. Potensinya cukup besar. Terlebih lagi, dari 23 kabupaten-kota di Aceh ada nilamnya. “Sampai ke Tamiang, sekarang masih ada yang nyuling nilam di kecamatan Sekrak, mulai Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Selatan, Gayo, Lhokseumawe, Pulau Aceh, Pidie sampai Tamiang adalah beberapa daerah nilam di Aceh,” ungkap beliau Syaifullah sebagaimana dalam wawancaran beliau di rubrika.id beberapa saat lalu.

Persoalan mendasar dalam pengembangan minyak nilam di Aceh adalah harga dan capacity building pada level petani. Untuk itu, dalam waktu dekat, pihaknya akan mengembangkan desa wisata nilam. Adapun tempat yang direncanakan adalah Ranto Sabon kecamatan Sampoinet, Aceh Jaya.

Di desa wisata tersebut nantinya, akan dilakukan peningkatan keilmuan masyarakat dalam menanam, mengolah, serta membuat produk turunan dari nilam tersebut. Semisal, parfum, sabun, body scrubb, aroma terapi, dan lain sebagainya. Sehingga hal tersebut mampu berkontribusi membentuk ekosistem baru dari perniagaan nilam.

Tak hanya sampai di situ, desa yang masih termasuk dalam mukim Mukim Pante Purba, kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya ini, juga memiliki potensi alam lainnya. Letaknya yang berdekatan dengan kawasan Hulu Masen. Mampu memberikan panorama alam yang tak kalah menarik dari daerah lainnya. Tak jauh dari kawasan desa, juga terdapat Bukit Pelangi. Bukit yang tanahnya berwarna kuning, jingga, merah jambu, dan merah. Tak ayal nantinya desa ini akan mampu menarik wisatawan sehingga meningkatkan nilai tambah kepada para petani nilam di desa tersebut. Jika dikelola dengan baik tentunya.

Saya membayangkan, suatu hari nanti, atau beberapa tahun lagi, nilam kembali begitu berharga. Sampai seorang maling pokok nilam harus diburu. Di tengah malam yang mencekam, apapun taruhannya, demi menjaga marwah nilam yang begitu berharga demi petani nilam, dan demi Pendapatan Asli Daerah Aceh nantinya. []

By dan Sumber : Yudi Randa (www.rubrika.id)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *